Jalan

Di antara pertimbangan hidup atau mati, aku bertanya,

“Kemanakah aku akan pergi selanjutnya?”.

Hidup adalah sebenar-benarnya perjalanan. Dari rahim yang ditiupkan ruh, lalu menjadi manusia di bumi dengan segala kepelikannya, lalu menyambangi alam kubur, kemudian dibangkitkan pada hari akhir untuk dipertanggung jawabkan perilaku semasa di dunianya, lalu bersemayam di alam abadi entah surga atau neraka.

Sebenarnya aku belum siap berpindah, namun dalam beberapa keadaan memaksaku untuk menentukan pilihan, mungkinkah aku bertahan? Sempatkah aku mengungkapkan sesuatu yang ku pendam selama bertahun-tahun sebelum aku pergi? Entahlah.

Kita tidak akan tahu apa kalimat perpisahan yang akan terakhir diucapkan, kecuali kita merancang kematian kita sendiri.

Tabik

Advertisements

Tangerang.

Tol Karang Tengah, 15 Oktober 2018.

Hari ini bisa dibilang salah satu hari bersejarah, setidaknya buat saya pribadi. Hari ini, dua hari setelah seremoni wisuda sarjana saya, setelah mengirim sepeda motor ke Bandung, saya resmi meninggalkan Tangerang. Setelah hampir lima tahun saya tinggal di sini, belajar banyak hal yang perlahan-lahan buka mata saya, nambah wawasan saya, dan merubah cara pandang juga berpikir saya.

Lima tahun, Tangerang jadi “arena bermain” saya, di mana ada memori yang terbungkus dalam ketawa sampai tenggorokan seret atau gigi kering, bahkan tangisan tanpa suara dalam doa yang saya panjatkan diam-diam.

Tangerang bukan sekedar tempat saya kuliah-lulus-bawa gelar sarjana. Di sana ada kenangan-kenangan manis yang tersimpan untuk saya ingat sama sahabat-sahabat saya, teman satu fakultas, teman satu perkuli proyekan saya.

Lima tahun lalu, ketika merasa terjebak di kota ini, di kepulangan saya kali ini ninggalin satu ruang di hati saya, tentang kota satelit pinggiran Jakarta yang diam-diam membentuk saya lebih kuat lagi dari sebelumnya.

Terima kasih Warung Mbok Cipto, Om Edy Warung Seafood Lusy, mall AEON, es krim IKEA, Soto Tangkar Mang Ebo, Soto Betawi H. Mamat, Nasi Ulam Mamah Ida, Warteg Jaya, juga lain-lain yang bikin uang saya habis dan perut saya makin buncit.

Saya undur diri,

Nisa.

23 tahun

Nggak, saya nggak lagi ulang tahun, udah lewat juga.

Setelah saya scroll instagram saya, ada teman-teman sepantar saya, lalu saya buka laman mereka, yang dulu berjuang sama-sama.

Ada yang masih berjuang merubah nilai D agar bisa lulus kuliah.

Ada yang lagi berjuang buat menyelesaikan skripsinya.

Ada yang sama-sama sedang menunggu wisuda.

Ada yang sedang melamar kerja dengan menyebar lamaran ke berbagai perusahaan.

Ada yang baru dapat kerja.

Ada yang baru resign.

Ada yang sudah pindah kantor.

Ada yang sedang menikmati kehidupan baru dengan pasangan halalnya.

Ada yang sedang menikmati masa kehamilannya.

Ada yang sudah sukses dengan bisnisnya.

Ada yang lagi ngerepost quote dari akun @nkcthi, sambil nungguin jodoh.

Ada yang lagi di menikmati masa penganggurannya.

Ada yang lagi mulai lanjut S2 di luar negeri.

Ada yang mulai putus asa sambil dengerin lagu Pilu Membiru-nya Kunto Aji #itugue wk.

Mereka dengan pace dan ceritanya masing-masing.

Fragmen kehidupan, gitu lah. Beragam. Saya juga sempat down karena lulus telat, nilai pas pula, sempat dapat kerjaan tapi ternyata batal karena satu dan lain hal, kelamaan nganggur.

Emang sih, ini kritis banget menurut saya, nyerempet quarter life crisis gitu loh kalau kata netizen. #halah

Nggak bisa dipungkiri di tahun ini juga saya bulak balik ke psikolog dan psikiater, sampai coba beberapa teknik meditasi sendiri biar tetep waras, tetep bisa mikir logis. Walau ya namanya manusia, susah.

Tapi saya yakin, kita punya masanya masing-masing, diberi rahmat dengan jenis yang berbeda-beda, dikaruniai nikmat dengan cara yang tidak selalu sama.

Semangat!

Sebenernya ini efek ngopi semalam, jadi ngga bisa tidur, jadi mikir kemana-mana, tapi baguslah, udah lama nggak nulis random thoughts gini.

Tabik,

Vannisa Rindita

Bandung, 5.00 am.

Reaching My Version of Paradise (Part 1)

Februari 2018.

Notifikasi LINE di ponsel gue berbunyi. Datangnya dari Teh Yoan, salah satu teman facebook gue sejak 7 tahun lalu. Dia menginfokan tentang adanya promo AirAsia, pulang-pergi, ke India, 1.2 juta rupiah.

Otomatis gue panik, cek buku tabungan, dan berpikir lagi untuk membelinya, atau tidak.

Selang beberapa minggu, ternyata promonya masih ada, “bener-bener rezeki gue nih” soalnya biasanya gak lama-lama amat kan kalau tiket promo, setelah diskusi sama Mama, akhirnya, oke, beli! I’m going to India, yass.

Bayangan soal tempat yang menjadi bucketlist paling atas, langsung tergambar. Hati ikut campur aduk, panik lagi. Tak lama, gue sibuk urus paspor sana-sini hingga ke Serang, karena kuota di kantor imigrasi tak kunjung memadai untuk di wilayah Bandung maupun Tangerang.

Setelah itu, perencanaan perjalanan dimulai begitu alot. Kami akan menghabiskan tiga minggu, di India.

26 April 2018.

Di langit antara New Delhi dan Ladakh, gue berkali-kali menyebut kalimat hamdallah. Ada perasaan haru yang tak terbendung, masyaa Allah.

Setelah itu kami mendarat di Kushok Bakula Rimpochee Airport, bandara yang sebelumnya hanya bisa jadi bunga tidur di malam gue. Terwujud juga. Disambut dengan pegunungan himalaya, yang super-nggak-ngerti cuy kok terwujud juga ya. Heran.

Rasanya pingin sujud syukur pas baru mendarat, tapi karena area militer, di mana banyak tentara megangin bedil, maka gue urungkan.

Oke.

Dari dulu banget, ya ga lama-lama amat sih, mungkin 2-3 tahunan, gue pernah nonton filmnya Ron Fricke, antara Baraka atau Samsara, pokoknya di sana ada adegan para biksu tibetan buddhist bikin sand mandala, di sebuah monastery (atau gompa dalam bahasa lokal) yang dikelilingi hamparan pegunungan himalaya. Iya, gue langsung terobsesi sama dua hal itu; tibetan gompa dan pegunungan himalaya!

Hari pertama, kami dijemput oleh taxi driver, dan mata gue berbinar-binar begitu keluar dari airport. Karena pemandangan sekitar yang keren banget cuy Masyaa Allaah. Kangen kan jadinya guaaa. Wkwkwk.

Hari pertama yang gue lakukan adalah…aklimatisasi! Karena katanya rawan kena accute mountain sickness atau AMS, btw Kota Leh ini tingginya sekitar 3500 mdpl, nah loh hampir setinggi puncak gunung semeru. Jadi kita harus membiasakan diri sama oksigen yang tipis. Selain aklimatisasi, gue juga muter-muter cari ATM, karena gak bisa ambil ruppee, ternyata gue aja yang bahlul karena kalau di India, cara pakai ATM nya adalah masukin kartu sebentar, terus langsung dicabut lagi, baru masukin pin dan tulis berapa nominal uang yang mau kita ambil HAHAHAHA. Gegara ga tau itu gue muterin beberapa bank di Leh Market, dan gagal. Setelah gue ke salah satu bank yang beroprasi, baru deh tau.

Oh iya, Leh Market itu ternyata seasik itu, ada grocery store super murah mursidahun, penjual kain-kainan lokal, dan yang paling penting ada satu drugstore isinya merk Himalaya semua, dari facial wash, teh pelangsing ayurvredic, sampai balsam! Itu loh yang masker neem nya ngehits banget! Oh iya, kalau Ladakh itu nggak berasa lagi di India karena mayoritas rupa mukanya juga beda dibanding orang India pada umumnya, di sana mayoritas orang kashmiri dan tibetan, yang mirip Zayn Malik gitu banyak lah cuma ganjen-ganjen jadi gue mager wqwqwq. Ada beberapa yang mirip orang russia juga, baik. Terus banyak yang ngira kalo gue dan Teh Yoan itu orang Thailand, jadi sering di “sawasdee khap” in sama orang-orang wkkkkk. Di sini jauh lebih bersih dan teratur lah intinya…dan paling penting, jauh lebih bersih walaupun tetep ada beberapa pengemis yang annoying.

Kurang lebih kayak gini rupanya (( temen-temen gue )) orang kashmiri itu. Lewat lo semua. Lewat.

Leh Market.

Duh kangen aq tuuu.

Hari-hari selanjutnya (sumpah gue lupa bhakkk), akhirnya kami ikut tur. Oke intermejooo, jadi enaknya daerah Ladakh itu, semua harga apapun diatur pemerintah, termasuk tur sampai harga sebutir telur pun diatur pemerintah, sama semua! Kecuali harga souvenir kayaknya, dan mereka bener-bener sadar banget sama bahaya plastik. Jadi kita belanja nggak pernah dikasih plastik, biasanya dikasih kertas atau tas kain gitu. Oke

Hari selanjutnya kami tur gitu ke Likir Gompa. Sepanjang jalanan mulus berasa di Lombok #menurutluu dengan driver bernama Ali yang katanya seneng banget ketemu fellow muslim sisters seperti gue dan Teh Yoan.

#yhaaaaa gue mejeng mulu ngalangin pemandangan 🤣

Selanjutnya kerjaan gue selama di Leh adalah bangun tidur-masak di common kitchen-makan-chill ngeliatin gunung salju dari teras hostel-nyari wifi-ke Leh Market-repeat gitu aja terus selama 3 harian 😂 ntap juragan. Berasa horangkayah padahal mah sobatkyzmyn ya sama aja.. karena pemandangan di sekitar hotelnya kayak giniiii maliiiih…

Bonus si nyai yang lagi meringkuk kedinginan..

Karena tidak ada yang lebih nyqmad dibanding makan indomi dengan bekgron pegunungan himalayaaa ~

ASLINA LUR!

Berniat untung living like a locals seperti jargon para traveler maka di sana pun gue mencoba makanan khas india bernama Pani Puri ~~~~

Pani berarti kentang dan puri berarti air dalam bahasa hindi. Berarti artinya kentang dikasih aer. #bhaiq. Rasanya gimana? Kayak makan gorengan dalemnya kentang dingin terus dianuin bumbu rujak…asem asem pedes asin rame rasanya 😂. Berasa nona nona ye.

Okeee kemudian hari ke tiga gitu gue lupa kita ke Leh Palace dooong, tapi karena kami sobat qysmynd lagi lagi ya masuknya 200 rupee atau 40-50 ribu rupiahan gitu mending dipake buat makan kaan jadi kita foto-foto aja di luarannya dan ngedaki ke Namgyal Tsemo Monastery di atasnya yang gratisan. Okeh dua itu adalah tourist attraction terdekat dari pusat kota Leh selain Shanti Stupa.

Gue cosplay jadi kangkung karena berjalan melenggang…ngarti ga lu? HAHAHAHAA. Vibenya ala-ala tembok tiongkok karena ga boleh nyebut tembok cina ~

Nah ini Leh Palace, cuma bisa foto di depannya aja karena cuma mampu sampe situ doang shay ~

Segini dulu ya, nanti lanjut ke part 2.

Gitu aja,

Vannisa R.

Lombok for The Dummies

Oke karena demand meningkat minta gua pindain tulisan guidance ke Lombok buat first timer karena tumblr diblokir yauda gua taro sini aja oke.

Copas sih.

Mari…..

Oke karena literally BANYAK BANGET yang nanyain soal, “nis kalau mau ke Lombok seminggu ke mana aja?“. “Nis budget ke Lombok kira-kira berapa kalau termasuk tiket pesawat?“. Oke karena biasanya gue jawab panjang lebar satu-satu, gue tulis aja di sini semuanya tetek bengek, tempat tinggal, budget, sama itinerary dan perkiraan biaya hidup kalau ada yang pengen jalan-jalan lucu ke Lombok.

Sebagai patokan, gue tulis semuanya akses dari Jakarta, mungkin bisa disesuaikan juga kalau dari daerah lain..

Oke pertama transportasi menuju Lombok.

1. Pesawat CGK – LOP.

Pesawat dari Bandara Soekarno Hatta ke Bandara Internasional Lombok itu harganya sekitar 1 juta rupiah pp kalau lagi low season pake maskapai low cost. Jujur, gue selalu naik pesawat kalau ke Lombok karena gak mau pusing lama di jalan. Waktu terbang sekitar 1 jam 50 menit. Praktis banget kan. Kalau high season gue jujur gak pernah sih cuma mungkin bisa sampai 2 jutaan pulang-pergi. Pinter-pinter pilih waktunya aja ok.

2. Jalur Darat-Laut via Bali.

Kalau ini opsi biasanya yang pengen jalan-jalan mapay bahasa sundanya atau nyusurin semua daerah, mungkin gak mau rugi atau emang lagi selo aja. Kurang lebih sih naik kereta ekonomi, oke gue coba perkiraan pake kereta yang paling murah, sisanya disesuaikan kayak gini rutenya:

  • Pasar Senen – Lempuyangan (KA Progo) Rp 74000.
  • Lempuyangan – Banyuwangi (KA Sri Tanjung) Rp 94000.
  • Banyuwangi-Gilimanuk (Ferry Dewasa) Rp 7500.
  • Gilimanuk-Padang Bai (Bus) Rp. 60000.
  • Padang Bai – Lembar (Ferry) Rp 43000.
  • Lembar – Mataram (Mobil) Rp. 50000

Total : Rp. 318500

3. Jalur Darat-Laut via Surabaya.

Opsi ketiga hadir kalau kalian pengen masih ngerasain bekpeker-bekpekeran tapi gak mau terlalu ribet. Di akhir tahun 2016, ada kapal dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya langsung menuju Pelabuhan Lembar Lombok. Menurut gue lumayan motong tenaga sih ya. Oke kurang lebih gini…

Pasar Senen – Gubeng (KA Gaya Baru Malam) Rp. 115000

Tanjung Perak – Lembar Rp. 83000

Lembar – Mataram Rp. 50000

Total : Rp. 238000

Menurut gue opsi terakhir ini emang opsi termurah sih ya, tapi cek jadwal KM Legundi nya dulu karena kalau gak salah gak ada tiap hari dan jadwalnya sering berubah untuk memastikan waktu keberangkatan kalian.

Oh iya, akses dari Bandara Lombok ke Mataram, tersedia bus damri yang tarifnya sekitar 25 ribu, ada juga bus yang ke/dari Senggigi, bisa dipilih sesuai kebutuhan. Untuk pp Lembar-Mataram, bisa menghubungi Pak Samsul : 081917273321, tapi harus bicarakan jauh hari ya.

Kedua, tempat tinggal. Karena setiap gue ke Lombok itu hitungannya tinggal lumayan lama, berbulan-bulan maka biasanya sih gue nyari kosan. Tapi untuk yang pengen sebentar aja di Lombok, bisa banget cek instagramnya Rumah Singgah Lombok. Dan bisa tinggal gratis tanpa dipungut biaya sepeserpun. Untuk registrasinya bisa direct message aja ke sana ya, biar dihubungkan sama hostnya. Kalau pengen opsi lain, banyak hotel di daerah Kota Mataram atau Senggigi, tapi gue sih lebih menyarankan tinggal di daerah Cakranegara, Mataram. Soalnya di sana gak susah buat cari makan atau kebutuhan sehari-hari, di tengah kota, dan akses ke mana-mana pun cenderung enak. Untuk penginapan di Gili Trawangan pun harganya dimulai dari 100 ribuan per malamnya.

Ketiga, transportasi di Lombok. Oke banyak yang suka nanya, “nis, kalau di Lombok ada angkot gak?“. “Nis kalau di Lombok ada transport umum gak?“. Oke, di Lombok tuh gak ada angkot, transportasi umum pun setau gue terbatas banget. Paling cuma ada taksi, atau baru-baru ini kabarnya ada ojek online yang karya anak bangsa itu loh wkwkwkwk. Jadi gue sarankan nyewa motor aja biar fleksibel ke mana-mana. Tarif sewa motor itu sekitar 70-80 ribu sehari. Kalau dibagi dua bisa lumayan banget kan?

Saran gue, kalau mau ke Lombok itu satu hari fokusin ke setiap titik. Jadi dibagi setiap daerah itu satu hari contohnya, biar waktunya digunakan secara optimal, jadi sehari cukup konsentrasi ke satu daerah dan sekaligus bisa dapat banyak spot (beserta waktu tempuh dari Kota Mataram) :

Arah Pantai Selatan Lombok (-/+ 1,5 jam) :

  • Desa Sade
  • Batu Payung
  • Tanjung Aan
  • Bukit Merese
  • Pantai Semeti
  • Pantai Mawi
  • Pantai Mawun
  • Pantai Selong Belanak

Arah Pantai Utara-Barat-Senggigi (45 menit):

  • Gili Trawangan (idealnya nginep semalam)
  • Gili Air
  • Gili Meno
  • Pantai Klui
  • Pantai Kerandangan
  • Melaka (Bukit Malimbu)
  • Pantai Senggigi
  • Pantai Pandanan

Arah Pantai Pink (3,5 jam) :

  • Pantai Tangsi
  • Tanjung Ringgit
  • Pantai Segui

Arah Lombok Barat (1,5 jam) :

  • Gili Nanggu
  • Gili Kedis
  • Pantai Elak-Elak
  • Sekotong

Arah Lombok Timur (3 jam) :

  • Gili Kondo

Arah Sembalun-Lombok Timur (3,5-4,5 jam):

  • Gunung Rinjani
  • Bukit Pergasingan
  • Bukit Dua Dara
  • Air Terjun Mangku Sakti
  • Air Terjun Mangku Kodeq
  • Bukit Selong
  • Masjid Kuno Bayan Beleq
  • View Point Pusuk Sembalun

Oke mungkin bisa disesuaikan masing-masing ya mau dikunjungi hari keberapa.

Nah selanjutnya yang paling penting itu budget. Kadang suka ada yang nanya, “nis gue punya 2 juta bisa ke Lombok gak?“. BISA BANGET. Seminggu malah. Intinya budget itu tergantung masing-masing, kalau nginepnya di hotel bintang 5 ya gak cukup lah, tapi kalau sederhana, 2 juta menurut gue cukup banget, sih. Udah termasuk tiket pesawat pulak. Sip kan yak.

Biasanya gue kasih budget sehari itu 150000 yang meliputi :

  • Makan 3x : Rp 30000
  • Sewa Motor (share cost) : Rp 40000
  • Bensin : Rp. 15000
  • Jajan/Parkir : Rp. 15000
  • Penginapan : Rp. 0
  • Kebutuhan lain/tiket masuk wisata : Rp. 50000

Oke intinya biasanya sih gue segitu cukup ya~ kembali lagi pada jiwa hedonisme masing-masing wkwk.

Selain itu, gue juga suka dapet pertanyaan, “nis kalau cari makanan halal di Lombok susah gak?“. Nih ya gue kasih tau, mayoritas warga Nusa Tenggara Barat itu muslim. Jadi gak susah buat cari makan halal, tapi kalau mau yang haram juga ada sih soalnya masih banyak warga Hindu-Bali di Lombok, biasanya warung bali setau gue jualan babi guling jadi don’t worry guys wkwk. Jangan takut juga karena mostly makanan di Lombok itu halal. Nah harga makanan di Lombok itu beragam ya, dari model nasi bungkus campur yang dijual dipinggir jalan berbentuk kerucut illuminati itu harganya Rp. 5000 sebungkus udah kenyang banget, isinya dari sayur ikan ayam campur semua. Nah kalau mau rekomendasi gue soal makanan apa yang wajib coba kalau mumpung di Lombok, boleh deh gue kasih rekomendasinya beserta perkiraan biaya makan/orang:

  • Ayam Taliwang sekitaran Cakranegara : Rp 60000
  • Nasi Sekarbela : Rp. 10000
  • Sate Rembiga : Rp 40000
  • Ikan Bakar Pantai Pandanan : Rp 50000
  • Nasi Aheq Ampenan : Rp 10000
  • Nasi Kikil Masbagik : Rp 20000
  • Nasi Ayam Rarang : Rp. 35000
  • Sate Ikan Mirasa Cakranegara : Rp. 15000

Oke masih terjangkau kan ya, gambar gak gue tampilkan karena bulan puasa. Sip.

Oh iya, untuk akses ke Gili gimana?

Untuk Gili Trawangan terdapat kapal umum biasa tarifnya sekitar Rp. 17000/orang/sekali jalan dari Pelabuhan Bangsal. Kalau Gili Kondo/Gili Nanggu biasanya sistem charter, mungkin sekitar Rp 300000-500000/rombongan maksimal 8 orang.

Insya Allah cukup jelas dan bisa membantu perpiknikannya ya guys. Kalau ada yang kurang jelas bisa message gue secara personal. Oke oke oke.

Lain kali kalau gak mager semoga bisa nulis panduan sotoy versi sumatra-sabang sama labuan bajo yaaaa.

Semoga gak kentang, salam piknik!

Vannisa Rindita

Cerita Gede

Bogor, 26 Agustus 2017.

Di hari sabtu yang gabut, salah satu orang yang gue temui di Rumah Singgah Lombok, sebut saja Gagah, tiba-tiba ngechat LINE gue…
“Naik gunung yuk”.
Karena ya kondisi yang gabut dan butuh banget keluar dari kosan, gue iya-iya aja, padahal gak sadar ya udah lama berhenti olahraga. Awalnya sempet gak percaya, soalnya Gagah emang rada-rada bocahnya, tapi yaudah lah akhirnya nekat aja. Iya-iyain aja tanpa riset kondisi medan yang bakal dilalui kayak gimana. Awalnya sempet gentar, tapi udah lah sikat deh.

Singkat cerita kami urus simaksi online. Lalu berencana naik via jalur Gunung Putri dan turun via jalur Cibodas pada hari Kamis-Jumat.
“Mau malem jumatan di gunung lu?”. Tanya salah satu kawan saya yang meminjamkan sleeping bag sebut saja Maqi.

Dari googling-googling dibilang jalur Putri katanya lumayan ganas, curam, terjal, dan tidak disarankan untuk pendaki pemula.
Oke.
Berbekal ilmu trekking dan beberapa gunung sebelumnya, gue iya-iya aja. Lebih banyak pedenya. Liat nanti aja lah, kayak biasa. Padahal gue pemula banget engga, tapi expert banget yang endurancenya tinggi pun engga. Yaudah lah, yuk.
Segala rencana kami siapkan, dan pada akhirnya pada rabu malam kami berangkat ke basecamp cibodas untuk bermalam dan mempersiapkan diri untuk pendakian keesokan harinya.

Sambil siap-siap, salah satu temen gue yang sering turun-naik Gunung Gede bilang, kalau di sana masih ada macan tutul. Jadi sebaiknya harus tiba di basecamp sebelum maghrib. Gue takut. Tapi tetep nekat. Gimana dong.

<p>Oke singkat cerita lagi akhirnya kami menyewa angkot seharga 150 ribu dari Cibodas menuju pintu masuk TNGP Putri. Mahal sih, parah. Buat angkot yang jaraknya cuma 15 menitan huhuhu. Apalagi kalau cuma dibagi tiga. Nah terus masuklah kami ke gerbang Putri.
“Yakin ga nih? 6 km loh trek terjal!”. Dalem hati ngebatin gitu terus. Dengan baca-baca segala doa apalagi kan malem jumat di gunung yang katanya lumayan angker ya. Yaudah, kuy. Kami naik dan laporan ke pos pendakian sekitar jam 9 pagi. Di pos ada anjing kecil yang rasnya sepertinya bukan anjing kampung biasa. Gemes banget, pengen gue ajak main si anjing tapi takut kena liurnya, jadi gue liatin temen-temen gue mainin dia sambil mupeng aja. Oke udah cek segala gear dan printilan akhirnya kita memulai pendakian. Diiringi lagu Baby Shark dari handphone gue, biar semangat.

Singkat cerita lagi, kami sampai di Pos 3 Buntut Lutung (kalo gak salah) sekitar jam 12-an, di sana kami makan siang dan gue shalat zuhur. Kami makan satu nasi bungkus bagi tiga. Iya itu nasi bungkus terenak yang pernah gue makan, karena makannya di tengah hutan pas lagi capek. Setelah Pos 3 jalanan terjal, untungnya cuaca cerah, alhamdulillah, jadi treknya normal, gak separah Singgalang dan setelah istirahat beberapa kali, kami sampai di batas vegetasi atau Simpang Malabar sekitar jam 15.30. 6.5 jam. Dari sana, kami disambut savana Suryakencana Timur yang luaaas banget dan dua warung yang menjual minuman juga gorengan. Satu buah gorengannya mereka jual 2000an cuma ya worth it lah karena perjuangan sampe sana juga gak gampang ya. Dari Suryakencana Timur kami masih perlu waktu sekitar setengah jam dengan trek landai menuju Suryakencana Barat, tempat kami berencana mendirikan tenda karena di sana terdapat sumber air dan lebih dekat jika akan melakukan summit attack. Oke deh akhirnya kami jalan lagi, disambut kabut yang bikin tulang gue….gitu lah gemeteran dan edelweiss di sekitar kami.


Dari beberapa cerita yang pernah gue baca, Savana Suryakencana ini menjadi salah satu tempat bersejarah bagi Kerajaan Pajajaran di masa lampau, konon setelah kalah dari Majapahit, Prabu Siliwangi pergi ke tempat ini bersama pasukannya, dan tak pernah kembali.
Iya setelah itu kami mendirikan tenda, tidur, dan masak untuk makan malam. Dikasih bonus langit super cerah beserta…milkyway.

Setidaknya jadi langit paling bagus yang pernah gue liat seumur hidup gue. Pernah sih dulu liat milkyway di komodo, tapi jujur gak secantik iniiiii gimana dong :’))). Udah beneran tidur di million stars hotel lah.

Paginya, gue kenalan sama beberapa pemuda setempat dari Cibodas. Karena gue fasih ngomong sunda (iyelah) maka kami jadi cepet akrab dan ngambil air ke sumbernya bareng-bareng. Oke sip. Sayangnya kita cuma dapat cuaca cerah sebentar aja, selebihnya kabut tebal. 😥

Setelah packing akhirnya kami bersiap untuk summit attack Gunung Gede yang berjarak 2 kilometer dari tempat kemah. Jalanan menanjak terjal dengan hutan tropis jadi sarapan kami pagi itu. Empat puluh menit kemudian, kami sampai di Puncak Gunung Gede, 2958 Mdpl.

Alhamdulillaah.

Lagi-lagi ada warung di Puncak Gede. Kami makan gorengan anget di ketinggian #apaan.

Puncak Gede yang tertutup awan.

Setelah foto-foto di (( spot yang bagus )) maka kami berencana turun via Cibodas. Jaraknya 12 km aja sis. Oke deh. Kami juga harus berhadapan dengan turunan setan yang bikin kami mengumpat seperti namanya. Tapi gue memilih untuk…..diam saja. Yha #pencitraan

Setelah itu kami coba berlari untuk turun ke bawah. Sayangnya kaki gue lecet. Jadi harus ganti sendal swallow. Di jalan kami pun bertemu bule yang terlihat sedang bertapa atau ngélmu, kalau kata orang sunda di sebuah sumber mata air. Semoga aja ilmu kalkulus yang saya pun belum kunjung lulus, bukan ilmu hitam. Amin.

Sayang gak ada fotonya.

Jalanan turun terasa lebih berat gue pun ngerasa capek lahir batin. Aslining beb. Kami juga bertemu beberapa pendaki baik hati di jalan. Iya kalau di gunung ngerasa semua manusia bersaudara~~~ saling bantu membantu.

Salah satu highlight trek cibodas juga pas kita lewat air terjun air panas tanpa jembatan. Tricky. Yha. Takut juga kepeleset.

Di hampir ujung trek Cibodas, ada Rawa Gayonggong yang konon jadi perlintasan macan kumbang maupun. macan tutul. Ngeri juga syob.

Sayangnya kami tidak sampai di basecamp akhir sebelum magrib. Jadi sempat gelap-gelapan juga dan ketemu sesosok guling loncat unyu-unyu diantara pepohonan -___- sial.

I can’t ask for a better teammate. Thank you Gagah-Mba Nivi.

Semoga ini bisa menjadi tabungan cerita untuk anak gue kelak, bahwa emaknya pernah begajulan juga.

Segitu aja.

Salam kentang,

Vannisa.

Gempor ke Baduy

Oke, ini ceritanya masih anget-anget soalnya baru aja kemarin (25-27 Desember 2016) gue dan salah satu temen gue, nekat berangkat ke Baduy tanpa opentrip. Biasalah prinsip ayamngegembel kayak gue, kagak greget kalo ikutan trip yaudah modal nekat ajaaaah seperti biasanyaaah~

Pagi-pagi drama dimulai dari mas-mbak pada telat bangun, karena kita semalam udah………googling kalau mau naik kereta Rangkas Jaya itu harus ke Tanah Abang dulu. Jam 7 kita baru berangkat dari kosan gue yang berlokasi di pelosok Tangerang, sedangkan kereta Rangkas Jaya berangkat pukul 8. Panik gak lo? Tapi dengan insting gue, akhirnya kami memutuskan berangkat ke Stasiun Serpong aja karena desas-desus keretanya berhenti di sana. Kalau bisa ke Serpong, ngapain jauh-jauh ke Tanah Abang YEGAAAAAK????

Akhirnya sampe Stasiun Serpong……..JAM 8! Dan tanya sana-sini, ternyata ada kereta ke Rangkasbitung jam 8.26! Alhamdulillah, gue sama Lukman langsung cengengesan berasa dapet durian runtuh~

Setelah ngantri panjang, akhirnya kami mendapatkan tiket seharga……….lima rebu perak saudara-saudara~ murah binggo kan ya cyiiin~ YAK CATAT. TERSEDIA KERETA DARI SERPONG KE RANGKAS BITUNG, PUKUL 8.26, DENGAN TARIF GOCENG!

Btw, dalem keretanya ya kayak kereta ekonomi biasa, beda sama KRD Padalarang-Bandung-Cicalengka. Ber AC dan tersedia colokan listrik kalau yang duduk deket jendela. Lumayan, buat ngisi energi setelah didiemin doi sebulan kan?

Perjalanan ditempuh kurang lebih satu jam dan setelah itu kami resmi menginjak Rangkasbitung yang masuk ke wilayah pemerintahan Kabupaten Lebak! HOYE!

Oke sebagai intermezzo, ada beberapa tips bawaan apa aja yang lo siapkan sebelum packing-packing ke Baduy, khususnya Baduy Dalam :

  • Ikan Asin. Menurut beberapa tulisan yang gue baca, orang Baduy itu demen kalau dioleh-olehin ikan asin. Katanya karena murah dan tahan lama, kan mereka ga punya kulkas, jadi makanan ini biasa jadi andalan mereka.
  • Sembako. Beras, minyak goreng, teh celup, saos sambel, telur, daging wagyu, telor godzilla, dkk. YA POKOKNYA STANDAR MASING-MASING LAH YA. Tapi intinya usahakan bawa sembako sendiri, secukupnya jangan berlebihan tapi lebihin dikit buat mereka. Ga perlu juga bawa beras satu sak kecuali lo kuat ngangkatnya dan mau bagi-bagi ke orang sekampung. Menurut gue, lokasi Baduy Dalam yang jauuuuh itu dengan kita bawa ‘oleh-oleh’ sembako itu mereka bakal seneng banget. :”””). Apalagi bawa bawang atau rempah yang sulit ditemukan di dalam, pasti bakal appreciate banget mereka mah insya Allah..
  • Permen, setidaknya satu plastik. Dari dulu, gue diajarin sama temen-temen, cara pedekate ke anak kecil itu bawa permen.
  • Senter. Ini sih buat diri lo sendiri, karena Baduy itu ga ada listrik, jadi kalau tengah malem lo kebelet, bisa ke sungai tanpa gelap-gelapan gitu kan bahaya yak,…
  • Sendal gunung. Menurut gue, karena kondisi jalan yang berlumpur basah licin dan curam, ada baiknya lo pake sendal gunung. Bukan sendal jepit atau sepatu gunung karena yang satu bikin lo lecet satunya lagi malah kotor dan basah gak jelas, jadi repot lah.
  • Hiking pole. Bukan striptease pole ya *HASTAGA SI NISA UDAH NGERTI GINIAN*. Tapi kalo males bawa gpp, kalau lo gatau malu kayak gue minta bikinin tongkat aja ke akang-akang di sana. Kali aja kan bisa berubah jadi uler.
  • Kompas Kiblat. Buat temen-temen muslim, jujur aja, ini akan memudahkan ibadah kalian. Percayalah, karena sebagian besar warga Baduy adalah penganut kepercayaan Sunda Wiwitan, sehingga ini mungkin wajib bawa bagi kalian yang ingin tetap menjalankan kewajiban shalat lima waktu *pake mukena* *ALHAMDULILLAH GUE BISA NULIS FAEDAH DIKIT GUSTI*. Ini juga bisa membantu kalian ketika amit-amit tersesat di hutan maupun hubungan yang salah. OK….yang terakhir serem banget sih 😦
  • Powerbank/mini solar panel. Untuk kalian yang gak bisa lepas dari gadget, karena di Baduy nggak tersedia listrik.

LAH INI MAH BUKAN INTERMEZZO. YAK MARI LANJUTKAN.

Karena berhubung gue dan Lukman gak pake trip, maka gue tanya-tanya dulu temen-temen gue yang pernah ke sana, salah satunya Putri.

Setelah sampai di haribaan yang Maha Kuasa Stasiun Rangkasbitung, maka apa yang harus kalian lakukan? TANYA SATPAM AJE.

Engga deng…

Kalian bisa nyari angkot tujuan Terminal Aweh dengan tarif lima ribu juga, terus sampai sana, bisa lanjutin perjalanan pake elep atau minibus tujuan Ciboleger.

48268

Yak kurang lebih kayak gini kondisi minibusnya, dan selalu nunggu sampai penumpang penuuuuh banget baru berangkat. Kalau yang biasa mabok khamr darat, bisa siap-siap keresek, duduk deket jendela, dan minyak untuk meminimalisir eneg di perut. Tapi kalau kalian biasa mabok darat dan penyuka serial Living Dangerously, ada baiknya nikmatin perjalanan sambil baca buku dengan kepala nunduk, dijamin muntah soalnya jalan ke Ciboleger itu deg-deg ser~ penuh tanjakan dan kelokan, untung aja gak ada kenangan mantan heheheu udah muntah bisa sedih 😦 lagi itu mah kalo diinget pokoknya :(.

Apa tanda-tanda lo nyampe Ciboleger?

Di sana mamang sopirnya bakal bilang, “TOS DUGI DI CIBOLEGER YEU” dan mobilnya berhenti. Hehhee engga deng.

Maka anda akan menemukan tugu ini…

dsc_4198

Yak. Setelah sampai di Ciboleger kami disambut kenalan kami, Kang Mul yang ada di sebelah kanan foto di atas.

Karena gue dan Lukman sampe Ciboleger itu Dzuhur, maka kami memutuskan untuk singgah di Baduy Luar semalam, dan keesokan harinya melanjutkan perjalanan ke Baduy Dalam. Kampung yang kami singgahi adalah Cicampaka dengan perjalanan kurang lebih 30 menit. Tepatnya di rumah Kang Mul.

48269

Suasana kampung saat hujan, bawaan gue pengen goleran di teras sambil dengerin lagu Desember-nya Efek Rumah Kaca terus menerawang ke langit, mencari faedah hidup selama 21 tahun. Mantap soul.

48270

Teteh-teteh mencari kasih sayang, eh kutu.~ deket banget yaaa~

48238

Dedek-dedek Baduy Dalam yang strong.

Keesokan harinya, setelah menginap semalam di rumahnya Kang Mul yang sangat inspiratif karena menjadi nominator di Liputan 6 Awards, maka kami melanjutkan perjalanan ke Baduy Dalam….jam 7 pagi. Kami berusaha sepagi mungkin biar ena…….EH BIAR GAK KESOREAN dan menghindari hujan. Ada baiknya gue menghindari hujan daripada dihindari dosen pembimbing skripsi, karena berabe.

48239

Pagi-pagi udah siap banget….

Oh iya kami berangkat sepagi mungkin karena waktu tempuh yang tidak terprediksi. Bisa sampai 6 jam, kalau keburu gelap, gak mau juga kan di hutan gitu…

Baru beberapa ratus meter jalan, gue udah membatin………..naudzubillah mindzalik. Karena trek yang berlumpur. Kalau dilewatin motor matic pasti ancur, untungnya di sana gak ada, dan kami memutuskan untuk memakai jurus backpacker nomor 101 yaitu…….LIVE LIKE A LOCALS : NYEKER!

Selain trek berbatu, ada yang harus kalian siapkan yaitu berpakaian nyaman dan JANGAN PAKE JEANS. Karena bakal lewatin sungai gitu, berasa jadi kera sakti untuk mencari kitab suci dan kanzo hattori untuk menyelamatkan kenichi mitsuba terus nyanyi nyanyi mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudera~

48272

Beruntung, karena kami sok-sokan dan nyari mati beda tipis gak pake guide, kami ketemu akang-akang Baduy Dalam yang ngajakin bareng dan membantu kami selama perjalanan biar gak nyasar. Serem gak luh kalau gak sampe ketemu mereka nasib gue gimana :”)))

48242

Kang Sapri, Sarta, dan Sayuti.

Mantap.

4827348241

Trek berlumpur, berbatu, dan licin siap menyambut kehadiran kalian~ selamat datang~

48240

yha.

Dan beruntung, malam itu kami nginap di rumah Kang Sarta yang baik hati. Alhamdulillaaaah. Tapi satu, kami gak berani foto-foto di Baduy Dalam karena memang dilarang.

48237

Nuhun Kang Sartaaaa~

PS : Foto dilakukan di Baduy Luar.

48274

Jalan berlumpur kayak gini…..wassalamualaikum

Catat : elep/minibus ke Rangkasbitung terakhir dari Ciboleger jam 12 siang. Jadi kalau mau balik dari Baduy Dalam, harus pagi juga biar gak ketinggalan

Oksiptengkyu

Yak karena kebiasaan gue kalau ngepost blog begini, alias kentang.

Maka gue undur diri dari hadapan anda…………

Salam kecups,

Vannisa Rindita.

Bertukar Kebaikan Melalui Couchsurfing : Bagian Pertama.

Ada yang tau Couchsurfing? *keluar dari alang alang*

Jadi, sebenernya gue tau website itu dari sebuah majalah remaja, pas awal-awal SMA. Gue baca artikel cara menghemat biaya traveling,  khususnya akomodasi pake situs tersebut. Ya karena gue kepo dan ga mau ketinggalan jaman, yha, maka gue bikin lah akun couchsurfing gue. Gue saat itu gaada plan buat jalan-jalan, cuma ya sekedar pengen tau aja sih, gimana cara mereka kerja. Gitu aja. Jujur pas awal-awal gue lumayan parno sih buat ngehost atau request stay.

Sampai pada akhirnya gue rasa, trust issue gue terhadap strangers itu meningkat drastis, setelah ke Lombok. Gue gak sungkan-sungkan lagi ngasih bantuan ke orang-orang dan bahkan minta bantuan ke mereka pas gue mau bepergian.

Jujur, awalnya salah satu alasan gue kenapa mulai aktif di couchsurfing adalah, untuk memperlancar bahasa inggris gue yang amburadul. Karena dari kecil gue anaknya ga betahan buat ikut les bahasa inggris, maka, untuk menambah kemampuan conversation gue menggunakan media duolingo, dan couchsurfing. Kedua, untuk nambah relasi, bahkan keluarga angkat dari penjuru dunia. Bisa nginep gratis? Itu bonus! 😀

Sebenernya gue udah pernah coba-coba sih sebelum mulai nge-host atau jadi traveler, tapi sekedar ngasih arahan dan panduan wisata aja buat kawan-kawan yang mau mengunjungi Bandung/Jakarta.

Long story short, pada suatu liburan gue berencana buat keliling Sumatra (I’ll post about this journey, soon!) sendiri yang startnya dari Sumatra Barat, tepatnya Kota Padang. Saat itu, gue modal nekat aja dengan budget pas-pasan.

Pas tiket udah issued, gue lupa satu hal.

Gue bakal tidur di mana, lo kata di emperan? Gak mungkin juga.

Terus gue inget kalau punya akun couchsurfing yang nganggur dan bangkotan. Gue install aplikasinya di henpon gue.

yak kurang lebih kayak gini

Oke. It’s my first time being a traveler with couchsurfing. Dengan beraninya, gue ngerequest stay ke Bang Ikhlas (Muhammad Ikhlas Al Kutsi di atas) berdasarkan feeling gue. Gak tau, perasaan gue enak aja pas mau request stay ke beliau. Akhirnya beliau respon dan kami pun melanjutkan percakapan di WA, gue jelasin lah tujuan gue dan kedatangan gue di Padang tanggal berapa.

Setelah beliau tau kapan tanggal kedatangan gue, ternyata beliau berhalangan karena ada kerjaan di luar kota sehingga gue gak bisa nginep di rumahnya :”(

Gak lama, akhirnya beliau mengabari kalau gue bisa stay di tempat kawan perempuannya dan dibuatkan grup whatsapp…

36932

SUMPAH GUE MEWEK :(((((((((((( baik banget :((((((((

Setelah ngobrol panjang, akhirnya gue dikenalin ke Kak Linda, kakak yang ngehost gue selama di Kota Padang… Gue belum tau muka Kak Linda kayak gimana saat itu. Cuma berbekal satu, gue percaya kalau Allah bakal nemuin gue sama orang baik. Itu aja. Hati gue tenang aja, gak ada was-was sama sekali… dengan jelas mereka sabar banget ngadepin gue yang kepo dan dikasih tau jelas apa yang harus gue lakukan setelah sampai bandara untuk menuju lokasi stay. LENGKAP! Huaaa #mewekpart2

Insting gue gak pernah salah, and say hi to Kak Lindaaa!

36933

Untuk urusan keliling kota, ternyata Bang Ikhlas menghubungkan gue dengan satu teman lainnya, Bang Delly!

36934

Lalu gue diajak keliling kota Padang. Kurang bersyukur apa? Gue betah dan suka banget suasana Padang :”D apalagi kalau menjelang sore..

Saat itu itinerary pertama gue adalah Padang-Bukittinggi-Payakumbuh-Padang-Medan-Banda Aceh, tapi di tengah jalan berubah. Sehingga gue sempet menjanjikan ke mereka kalau mau balik ke Padang lagi huhuhu ternyata gak jadi. :” sehingga pada akhirnya sampai sekarang gue belum pernah ketemu langsung sama Bang Ikhlas, tapi merasakan kebaikannya dari jauh aaah terharu :”””

Selama dihost, banyak banget perbedaannya kalau misal gue nginep di hotel, gue lebih nyampur sama kehidupan masyarakat asli daerah, makanan yang biasa mereka makan, dan belajar budaya langsung. Selain itu, tentunya gue pun sebagai muslim, bersilaturahmi sama saudara seiman (cieeee) 😀

Terima kasih, Bang Ikhlas, Bang Delly, dan Kak Linda.

Kind peoples still existed, don’t worry guys. This world not too cruel :”D

Vannisa Rindita

[UPDATE]

Oke karena ada beberapa temen yang nanya ke gue, kayak, “gimana sih biar dipercaya strangers di Couchsurfing?”. Jujur, gue belum berpengalaman amat di kancah per CS an ini, tapi gue coba jawab ya, sesuai dengan pengalaman gue kemarin.

Cerita di atas merupakan pengalaman pertama gue request stay di Couchsurfing, so, gue nggak punya references dari orang sama sekali (ya sekarang pun masih sedikit sih) .

Nah untuk meyakini para strangers bahwa kalian bener-bener orang yang bisa dipercaya, pertama. lengkapin profil kalian di page couchsurfing selengkap-lengkapnya.

Kedua, saat request stay, lo bisa kirim pesan kan, jelasin tujuan lo apa ke kota tujuan, lo berasal dari mana, status lo (mahasiswa/karyawan, bukan single/taken). Kalau bisa agar kasih ruang mereka untuk ‘verifikasi’ identitas kita, boleh sekalian ngasih username instagram, sejelas-jelasnya jangan bohong deh dan abu-abu. Udah itu jelasin kalau niat kita emang buat nambah keluarga. Intinya, baik-baik dan jujur.

Untuk sebaliknya, ketika kita mau memastikan apakah calon host kita orang bener-bener dan bukan identitas fake, gue biasanya searching nama si calon host sebelum request stay. Bisa di facebook, instagram, atau sekalian googling! Jadi gue bisa kepoin mereka di medsos apakah mereka orang baik-baik atau orang aring~

Kalau gak mau susah, liat aja ‘references’-nya orang itu, apakah ada tanggapan baik dari host/travelers nggak? Kalau misalnya seburuk apapun gue masih apes, berarti emang takdir gue, gitu aja sih simple. Allahuallam bishawaab lah intinya, serahin semuanya sama Tuhan, niscaya Ia yang akan memberikanmu jalan yang terbaik menurut-Nya. #AZEG

Selamat CS-CSan!

Jabodetabek Getaway : Pelabuhan Sunda Kelapa.

26621

ASSALAMUALAIKUM YA AHLI KUBUR!

Yak karena gue sudah pernah menjabarkan kondisi gueee yang notabene mba-mba caur yang sulit buat keluar dari Tangerang dan kuliah di jurusan teknik yang MASYA ALLAAAH sibuk kayak apaan. Apalagi tingkat akhir. Kelar hidup gue. Kadang ada gitu hasrat-hasrat pengen ngabur ke mana gitu, pengen ke Jogja pas weekend aja ga jadi-jadi. Bahkan balik ke Bandung pun, susah binggo. Lah malah curhat ikan lele -___-.

Yha, karena kondisi pala gue yang mumet dan butuh liburan, maka udah dari beberapa bulan laluuuu gue pengen main-main ke Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara.

BTW, di Jakarta itu punya banyak pelabuhan selain Sunda Kelapa, kayak Muara Baru, Muara Angke, dan Tanjung Priok yang punya fungsi dan kapasitas masing-masing, tapi menurut gue, pelabuhan paling historic itu ya Sunda Kelapa ini, selain karena salah satu pelabuhan tertua yang jadi saksi perkembangan Batavia pada masa lalu, pelabuhan ini tuh seru banget buat hunting foto. Kalau boleh jujur mah, ujung-ujungnya emang buat nyari konten..

Karena udah pengen lama banget tapi selalu gagal karena gue telat bangun atau mager, maka hari Sabtu kemarin, secara random, gue ngajak Abdi buat minggu subuh berangkat ke pelabuhan yang berada pada koordinat 6.1235° S, 106.8094° E ini.

Kenapa subuh-subuh? Karena waktu yang tepat buat sampai di Pelabuhan ini itu, sepagi mungkin pas matahari baru muncul, karena kalau siang dikit bakal panas banget dan serab kalau kata orang sunda mah. Jam 6-9 pagi, menurut gue waktu yang paling tepat untuk main-main ke sini.

Secara gue gak punya mobil dan mager urusan sama lalu lintas Jakarta, maka keberadaan Commuter Line di lingkup Jabodetabek itu ALHAMDULILLAH BANGET~ FYI, stasiun KRL yang paling dekat dari Pelabuhan ini adalah Jakarta Kota, Ancol, dan Kampung Bandan.

Lalu, kemarin gue memutuskan untuk turun di Stasiun Kampung Bandan yang dinilai paling simpel transitnya dari Tangerang atau Rawa Buntuuu~

26619

Jembatan Kampung Bandan

Dari stasiun KRL, kita bisa pesen ojeg/taksi online menuju Sunda Kelapa. Tarifnya sekitar 10-25 ribu ajaaah~~~

Lalu akhirnya sampailah kita ke Pelabuhan Sunda Kelapa~~~~~~~~~~~

NYAMPE PELABUHAN SUNDA KELAPA LAU BISA NGAPAIN? Bebas! Bisa foto OOTD, foto-foto gemez biar kayak futografer, ngeliatin kapal, ngelamar jadi marbot masjid, sama bantu-bantu kuli pelabuhan juga gpp itung-itung mencari faedah dalam hidup?

26624

Kalau buat klean-klean yang suka nyari konten foto bertema human interest, sabi banget nih tempat. Karena walaupun hari minggu, masih ada beberapa kesibukan yang terus berjalan~~~kayak hubungan kita mz (ditimpuk sak semen)

26626

Preman tangerang lagi inspeksi nunggu setoran~

2662226623

yha lumayan lah~

Pelabuhan Sunda Kelapa deket sama beberapa spot lainnya seperti Galangan VOC dan Museum Maritim Indonesia, jadi bisa sekalian belajar sejarah kan? Ngungkit-ngungkit sejarah gpp asal jangan ngungkit-ngungkit kesalahan orang. HAHAHAHA

Jadi gimana nee abang mpok ncang ncinggggg pada mau kaga #explorejakarta pas hari minggu daripada ngendon di rumah aje? Nyok~ alternatif bgt nee buat yang butuh ngisi feed instagram tapi gamau jauh-jauh keluar kota~ ntap

YXGQ????

Wassalamualaikum ukhti akhi~

Vannisa Rindita

Lombok : Rekap Dua Bulan

Oke, pertama-tama gue mau bilang HAEEE dulu buat orang-orang yang baca (emang ada yang baca? Gue optimis aja lah ya, atau gue sendiri yang baca? Gpp). Kenapa gue migrasi ke wordpress? Bukan, bukan karena gue jadi imigran gelap di tumblr terus gue dideportasi, tapi gue rasa, di sana isinya udah nyampur banget, dan gue pengen punya blog yang isinya bener-bener online jurnal bukan reblog-an maupun lagu-lagu dari jaman gue ababil sampe jadi mba-mba caur kayak sekarang. Intinya, selamat datang buat yang baca walau ga ada yang baca! Nih gue bagiin bumbu kacang! Kenapa bumbu kacang? Soalnya banyak di kulkas kosan gue, apaan dah.

Oke, sebagai tulisan pertama, gue pengen ngerekap cerita gue selama tinggal 2,5 bulan di Lombok. KENAPA GUE REKAP? Karena gue mager kalau harus nulis satu-satu, mending juga gue nulis skripsi noh ga kelar-kelar! Oke, nyolot. Skip.

Jadi buat yang pernah ngikutin instagram gue, atau tumblr gue atau sosmed gue mirc gue friendster gue myspace gue plurk gue (ya ga segitu banyak juge seeey) awal tahun 2016 ini gue dapet kesempatan buat magang di Lombok. Buat temen-temen deket gue, atau siapapun yang kenal gue langsung, pasti suudzon, “lah modus si nisa aje itu mah!”. Dengan mendengar judgement kalian seperti itu, gue cuma mau ngomong sesuatu ke telinga kalian, “NAH LO TAU!”. Itu, jelas, kalian sangat benar gue terharu dan you know me shooo well!~. Kenapa gue modus pake magang jauh-jauh segala? Ya karena kalau bukan dengan cara itu, gue yang punya curiosity tinggi menjelajah pelosok negeri (berisik tong) ini ga mungkin lah bisa maen-maen. Nih gue jujur yak, soalnya apalah gue cuma mba-mba yang ber KTP Jawa Barat terus ngebangke lama di Kabupaten Tangerang. Heuuu.

Oke, gue masih inget kapan gue berangkat ke Lombok, 6 Januari 2016 pesawat jam 08.50. Ngomong-ngomong gue sendiri heran kenapa bisa hapal bener sama hal-hal detil gitu tapi sama pelajaran kuliah kagak. Oke skip. Karena itu pertama kalinya gue terbang dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang dan saat itu gue lagi berada di Banduuung, maka gue asal aja pesan shuttle jam 1.45 dan gue sampe bandara jam 4 pagi karena lalu lintas tol yang syepiii. Zonk, guys! Gue terlalu trauma nampaknya sama kondisi tol bekasi, tomang, dan slipi saat itu.

Setelah gue mendarat di Lombok jam 9.00 WITA, gue langsung menuju Rumah Singgah Lombok, Mataram. Dari Bandara Internasional Lombok, gue naik damri dan lanjut naik ojek ke Rusing. YHAAAA.

I’ll never post another blog about Lombok, except about this home. I’ll post it later!

Sampailah rusing, gue akhirnya ketemu temen-temen yang ternyata anak Bandung juga! Fazri dan Bhakti. Karena ya kelakuan gue yang ga tau malu bawaan lahir, maka besoknya gue nimbrung mereka untuk naik ke Bukit Pergasingan! Ampas bukan?

DAN KURANG LEBIH INI LAH BUKIT PERGASINGAAAAAAAAAAAAAAAAAN

dsc_8291dsc_8165

Untuk mendaki puncak bukit pergasingan, kita butuh waktu kurang lebih tiga jam dari Desa Sembalun Lawang. Menuju puncak~gemilang cahaya~ #yousingyoulose

Masih edisi bersama Bhakti dan Fazri, maka hari setelahnya gue nimbrung mereka lagi untuk pergi ke Pantai Tangsi, atau yang terkenal dengan sebutan Pink Beach.

Jadi di Pantai Tangsi ini ada beberapa bukit di sekelilingnya, kita coba naik ke bukit sebelah kanan dan ternyata itu adalah…BUKIT KARANG!

SPOT BUAT HAMMOCKAN! Jadi lo bisa bawa hammock terus pasang diantara karang gitu, turunnya gimana? NYEBUR! Kalau lo ga bisa berenang, gue sarankan jangan coba sih soalnya lo bisa lewat gitu, soalnya karangnya lumayan tajam, arusnya kenceng (ada rip current), dan lumayan dalem juga terutama pas pasang! Kalo lo ga biasa renang, jangan nekat-nekat deh kecuali emang mau menyerahkan diri sama ratu pantai selatan.

dsc_8504-fileminimizer

Santai dulu coy

dsc_8501-fileminimizer

dsc_8528-fileminimizer

Lalu sempet-sempetan main barongsay gini mentang-mentang waktu itu deket imlek gini, huft.

LANJUT! Terus gue pun sempet main ke Bukit Merese sama Bang Wawan, Bang Fikri, Kak Amalina, dan Bang Dony.

DAN INILAH BUKIT ULTRA HIPSTER 2k16 ITU GESS!

Selanjutnya gue males lah ya kalo cerita satu-satu… Eh tapi boleh deh #gakonsisten. Beberapa hari kemudian gue kenalan sama bocah Jogja named Gagah dan kita sepakat untuk menjelajahi pantai di sisi selatan lombok. LOMBOK SELATAN ITU HITS BANGET BTW! Salah satunya itu ya Bukit Merese di atas jadi ceritanya gue balik lagi, cigitu.

Ada salah satu pantai favorit gue di barisan selatan itu, namanya Pantai Semeti. Kalau kata orang di sana mirip kryptonite batu-batunya gitu, dan gue setuju! Jadi sih pantainya menurut gue B aja cuma karang-karang di sekitar pantai yang ngga biasa! Arusnya juga supeeeerrr kenceng, gak direkomendasikan berenang kecuali lo mau nyerahin diri sama ratu pantai selatan #2. Secara gue anaknya nekat dan YOLO BANGET KAPANLAGI SEEEY KE SENEEEE jadi gue sok-sokan manjat salah satu sisi yang suka diterjang ombak gitu demi konten instagram, alhasil :

dsc_0509-fileminimizer

Setengah sisi badan gue keterjang ombak yang kenceng banget, batuan di sana mana licin, itu gue berasa near death experience aja, syukur gue masih hidup, masih bisa nulis blog ini, kalau engga, SYUKUR MAYAT GUE BISA DITEMUIN SIH ITU NAMANYA.

Nah lanjot. Sebelum ke Semeti sebenernya kami ke Pantai Mawun dulu.

dsc_8615-fileminimizer

Kalau kata anak aesthetic jaman sekarang komennya, “wah so serene”. #bodoamat

dsc_0623-fileminimizer

gagah si anak gembala #yhaaaaa

Oh iya, soal makanan, Lombok juga juara! Banyak makanan yang gue kangenin dan gak gue temuin di Jakarta, untuk makanan, di sini cuma nemu ayam taliwang doang huhu :” dan lidah masakan lombok atau sasak itu nyambung banget buat lidah orang sunda kayak gue yang nggak bisa jauh dari pedes-asin-gurih mecin. Mangkanya selama di sana, gue gak ada komplain soal makanan (SEJAK KAPAN GW MASALAH SAMA MAKANAN BTW)

20160229_010727Nasi sekarbela. Baru buka tengah malem, suka disebut nasi ubek. 10 ribu udah sama ayam telor, lengkap lah.  Khas di sambelnya emang. Pedes banget parah tapi gak gue temuin di daerah manapun selain ini. Malem makan ini, paginya bera-bera sekebon 😦

20160201_130830SATE IKAN TANJUNG! Favorit gue, mana deket kantor gue kemarin, semacam daging ikan yang dilapisi pake bumbu kuning. Gue ngidam ini sekarang. Yang suka ikan pasti bakal demen banget sama makanan satuuu huhu. Seporsi 10 ribu udah sama lontong 😦

20160130_205130The famous nasi ahe, di daerah Ampenan. Gue ngidam urap timun sama cabenya itu sumpah ena :((20160119_192709

Ini tipikal warung nasi di lombok, ya nasi campur pake sambal, rata-rata tiap warung menunya sama. Kalau ini versi Desa Teluk Kombal, kampung tempat tinggal gue. SEPORSI 4 RIBU! MAU APA LO?

Seperti yang lo tau, sehabis magang gue kelar, gue melanjutkan……..MAIN! Ya kali pulang 😦 dan gue balik lagi ke pink beach, sekarang gue sama Kak Dian, Kak Ira, Dony, dan Fedrik. Ditambah ke Desa Sade dan Tanjung Ringgit! nTAP, mB.

dsc_8714-fileminimizer

PERCAYA KAN NAMANYA PANTAI PINK~~~

dsc_8819-fileminimizer

dan ini sisi sebelah kirinya pantai tangsi itu, mz mb..

dsc_8894-fileminimizer

tanjung ringgit!

dsc_8914-fileminimizerdsc_8938-fileminimizer

Nyongkolan di Desa Adat Sade! Lucky us pas banget ada arak-arakan pas lagi ke siniii yuhuu~

dsc_8415-fileminimizer

a portrait of sade woman~

Dan sebelum gue lanjut ke Flores terus gue pulang, gue pun cabut lagi ke Gili Kondo dan Sembalun Lawang sama rombongan lainnya. Wuhuuw. Oh iya, setelah dari gili kondo, kan kami nekat ke Sembalun Lawang magrib-magrib pas hujan, horor juga sih lewat Pusuk Sembalun gelap gitu mana banyak cerita mistisnya kan. Tapi dengan misi visi hidup gue yang YAUDAH KUY AJAH maka dari itu gue langsung cabut heheheu.

dsc_9040-fileminimizeryakin gak mau berenang di sini?dsc_9081-fileminimizerreally miss this squad #NTAPMB

Oke sekian mungkin cuma pamer-pamer foto doang. Semoga menginspirasi (naooon).

Semoga dari tempat yang gue kunjungi dan gue modusin (apaan) bisa jadi referensi kalau main main dan makan makan ke Lombok!

Dari beberapa daerah yang gue datengin, Lombok itu masih jadi pulau yang paling sempurna menurut gue. Segi infrastruktur, fasilitas, keasrian, spot-spot, akses, tempat tinggal, menurut gue masih jadi yang terbaik. Pulau ini komplit banget kalau lo mau wisata alam, kuliner, sama budaya sekaligus. Lo mau naik gunung? Ada rinjani! Lo mau ke pulau-pulau? NOH BANYAK! Lo mau ngaer terjun? TENGGAL PELEEEH!

Oh iya ada satu tempat yang gue belum datengin di sana. Yaitu the famous Gili Trawangan. Janggal ga lu? Padahal itu pulau letaknya tinggal berenang dari kantor gue, suara berisik kalo full moon party aja kedengeran ke mess gue! Heran kan lo? Sama gue juga ~

Oke sekarang gue mau ngerjain skripsi dulu hahahahaha gue kangen battt sama ni pulau. Gue juga belum ngedaki rinjani karena selama gue di sana tutup dan guenya aja cemen hahaha. Selanjutnya gue bakal tulis tentang rumah singgah di sini *sungkem sama mamakbapak*

Suatu hari nanti sih gue gak bakal pergi ke Lombok.

Tapi bakal pulang ke Lombok!

Sampai jumpa di cerita gue selanjutnya, maaf panjang. MAMAM NOOH!

Salam,

Vannisa Rindita