Vietnam yang Pertama (Part 1)

IMG_20190622_073716

“Orang Vietnam itu sombong-sombong, Nis. Lo pastiin bisa handle semuanya sendiri ya.”

Plan lo udah well managed kan? Kalo bisa udah deh sebelum berangkat, itin-nya kudu jelas. Soalnya lo gak bisa ngandelin orang lain kalau butuh bantuan.”

Petikan wejangan dari salah dua orang teman saya yang pernah ke Vietnam sebelumnya ketika ditanyai macam-macam. Maklum, ini pertama kalinya saya akan menjelajahi sebuah negara yang belum pernah dikunjungi, seorang diri, dengan rencana pergi ke tiga kota.

Setelah hampir tertinggal penerbangan Bangkok-Hanoi dengan bonus disita beberapa barang di konter custom karena dengan bodoh saya menaruh body lotion dan sabun mandi yang berisi lebih dari 100 ml di tas kabin, setelah itu harus lari-larian dari konter imigrasi ke gate karena pesawat akan segera diberangkatkan, lumayan membuat mood saya pagi itu lumayan buruk. Selama di pesawat saya merasa stress sambil merapalkan beberapa kata umpatan dalam hati.

“Hi! Is this your first trip to Vietnam?” tanya mbak-mbak di samping saya, yang rupanya seperti orang Vietnam asli dan seumuran dengan saya. Intuisi saya berkata bahwa dia orang baik, suasana hati pun sedikit membaik.

“Yes! This is my first trip to Vietnam. By the way, are you Vietnamese?” saya menjawabnya dengan semangat.

“Yes, are you traveling alone to Hanoi? Or you will meet your friends there? Hmm are you a Thai?”

“I have no one ever friend in Vietnam, yes, I’m traveling solo to Vietnam. I’m an Indonesian. Are you traveling alone too?”

“Whoa you’re Indonesian! Yes I’m traveling to Bangkok to meet my sister there, I’m Nguyen!” Ah, akhirnya saya berkenalan dengan orang yang bernama Nguyen, pertama di perjalanan kali ini.

“Hi Nguyen! I’m Nisa! Nice to meet you”.

Setelah itu Nguyen bercerita berbagai hal tentang Hanoi, dan apa saja yang harus saya coba di kota itu. Dia juga mengajarkan saya mengenai transportasi Airport dari/ke Old Quarter, daerah hostel saya selama di Hanoi. Penerbangan yang berdurasi dua jam itu terasa tidak begitu lama ketika saya berkenalan dengan Nguyen pertama.

Setelah pesawat mendarat, kami berpisah tanpa bertukar kontak satu sama lain.

Setelah sampai di Noi Bai International Airport, rasanya proses di gerbang imigrasi begitu mulus, setelah menyerahkan paspor, tidak lama si petugas langsung mencapnya. Cepat sekali. Setelah itu saya menarik uang di ATM untuk mendapatkan banknote Vietnam, yaitu Dong (Vietnamese Dong: VND). FYI, kurs Dong saat itu adalah kurang lebih 10000 VND = 6000 IDR. Kalau menarik uang senilai 2 Juta VND akan dikenakan tarif sekitar 3% dan pajak bank dengan total 66000 VND, ditambah lagi tarif penarikan uang Visa sebesar 25000 IDR. Jadi kurs yang saat itu saya dapatkan sekitar 1 VND = 0.67 rupiah.

Dari Airport ke OId Quarter, saya disarankan Nguyen untuk memilih menaiki bus saja, yang ternyata tarifnya 35000 VND. Entah saya sedang beruntung atau memang sudah SOP-nya, tetapi si kondektur bus bandara ini sungguh lancar berbahasa inggris.

“Hey you must be going to the Old Quarter, right?” tanyanya.

“Yes, right!” jawab saya setelah memberikan uang tiket.

Satu jam kemudian saya sampai di daerah yang saya tuju, setelah meminta jalan untuk keluar dari kursi, seorang ibu yang duduk di sebelah saya yang orang Vietnam asli tersenyum lalu berkata, “Hey! Enjoy Vietnam, girl!”

Bukankah itu menjadi awalan yang baik?

Di Old Quarter, saya memilih menginap di sebuah hostel bernama Banana Inn Hostel, letaknya memang di dalam sebuah gang dan lumayan sulit dicari, tetapi lokasinya strategis dan dalamnya sangat nyaman. Sekitar delapan menit berjalan kaki dari tempat saya diturunkan bus. Di dalam hostel itu terdapat dua common room yang dilengkapi dengan program tv netflix dan AC-nya sangat dingin, cukup mengimbangi cuaca Hanoi yang panas dan lembab. Rate yang saya dapatkan saat itu 80000 VND per malam termasuk sarapan, cukup terjangkau, bukan?

Sesuai dengan rencana awal, hari pertama di Hanoi akan saya jadwalkan untuk berjalan-jalan santai di daerah Old Quarter dan berburu makanan sesuai dengan rekomendasi-rekomendasi yang saya dapatkan di internet, yaitu: Bun Ca Cam Say Si (fish noodle soup), Banh Mi 25 (Vietnamese sandwich), dan Pho Hanh (pho ayam kering).

Saya tertarik dengan Bun Ca Cam Say Si karena pernah diulas oleh seorang food vlogger idola saya, siapa lagi kalau bukan Mark Wiens! Warung ini pun dirasa halal, insya Allah, walau tidak ada logo resminya, hehe. Saya juga sangat penasaran dengan menu pendampingnya, yaitu Ca Cuon Thit atau Fried Fish Roll/Ikan Goreng Gulung yang seharga 10000 VND untuk satu roll. Silahkan dibayangkan sendiri atau meluncur ke highlight instastory saya :P.

Soal Banh Mi 25, tentu tidak diragukan lagi. Siapa orang yang pergi ke Hanoi tanpa merekomendasikan bagguette ala asia ini? Cuma mungkin bagi yang makanannya harus tok dan halal-strict bisa dipertimbangkan karena mereka juga menjual menu lainnya dengan pilihan daging babi.

Di Pho Hanh yang lumayan ramai, saya kembali seorang diri dan harus berbagi meja dengan satu keluarga yang nampaknya lagi-lagi orang Vietnam asli, ketika menunggu pesanan datang, si Ibu dari keluarga tersebut menyapa saya dengan bahasa inggris terbata-bata,

“Indo? Malay? Muslim? Right?” tanyanya memastikan.

“Right, I’m Indo and muslim.”

“Is this your first time trip to Vietnam? Alone?”

“Right, yes I’m alone to travel around Vietnam.” saya jawab dengan penuh kecanggungan.

“Oooh, so, enjoy my country! Enjoy Vietnam!” balasnya dengan senyuman lebar.

“Thank you, Ma’am.”

Hari pertama di negara itu, meninggalkan impresi yang menyenangkan. Orang-orangnya sangat ramah dan hangat, mungkin berbeda dengan cerita-cerita kawan saya sebelumnya. Entah kali ini siapa yang sedang beruntung atau bersinggungan dengan kebetulan-kebetulan. Tentunya harus dipercaya, bahwa Allah menjaga saya yang nekat ini.

Advertisements

Fase Baru

Ternyata patah hati tidak sesederhana itu.

Pikirku pada pukul 2 pagi sambil menatap langit-langit kamar yang lampunya sudah diredupkan. Hampir empat bulan akhirnya kami memutuskan untuk menjauh, tanpa sepatah katapun, namun satu-persatu seakan dapat membaca isyarat masing-masing. Jangka yang relatif, karena satuan waktu memang tidak bisa disamakan dengan persepsi setiap orang, lama atau sebentar. Mungkin di jam-jam krusial itu aku masih berusaha berpikir jernih, apakah benar kali ini kami sama-sama sedang menciptakan jarak sejauh mungkin?

Setelah lebih dari dua tahun, akhirnya aku dan kamu memilih untuk kembali ke lintasannya masing-masing, entah apa yang ada di dalam kepalamu saat ini, namun sejujurnya aku sedang berusaha keras untuk mensyukuri kehadiranmu yang tidak bisa dibilang singkat, keberadaanmu yang sempat menjadi sumber kebahagiaan setiap malam-malam panjang di daerah antah berantah melalui sambungan telepon.

Kali ini aku memulai fase baru: tidak menyebut namamu lagi di setiap doa sepertiga malamku. Di malam terakhir, aku sangat percaya bahwa Tuhan akan selalu menjagamu walau tanpa doa yang kukirimkan.

Tabik,

Nisa.

Melaka.

Melaka menjadi salah satu kota terrandom yang pernah saya datangi. Saya bersumpah, ketika meninggalkan rumah, tidak pernah membayangkan akan pergi ke kota ini terlebih sendirian. Di tengah perjalanan, ibu saya tiba-tiba menyuruh saya terbang ke Malaysia dan saya sengaja menyisakan satu hari untuk mengunjungi kota ini dengan tiket bus seharga 20 RM dari Kuala Lumpur International Airport, cukup terjangkau jika dibandingkan harga tiket bus damri dari Bandara Cengkareng ke beberapa titik di Jakarta.

Untuk penginapan? Saya percayakan pada rating booking dot com, karena trauma sebelumnya memesan hotel yang salah ketika tidak melihat rating dan guest review nya terlebih dahulu. Penginapannya apa? Coba cari hostel termurah dengan rating tertinggi di sana. 20 ringgit saja untuk satu malam dengan bonus tiga kawan baru dari China, Korea, dan seorang perempuan Indonesia yang kini menjadi salah satu sahabat saya, what a lucky chicken!

Karena ketika sekilas membaca ulasan, kota ini akan menjadi pikuk ketika mulai siang, akhirnya saya berniat untuk mengeksplornya sedari jam tujuh pagi waktu setempat, dan saya jatuh cinta pada setiap bangunan-bangunan yang berakulturasi dengan zaman, gang-gang yang bersih, sinar matahari yang terpantul di sungai, juga kesibukan yang baru dimulai di daerah Little India kemudian ditutup dengan sarapan murah meriah di Roti Canai Kayu Arang.

Akhirnya Melaka meninggalkan kesan.

Tabik,

Nisa.

Tangerang.

Tol Karang Tengah, 15 Oktober 2018.

Hari ini bisa dibilang salah satu hari bersejarah, setidaknya buat saya pribadi. Hari ini, dua hari setelah seremoni wisuda sarjana saya, setelah mengirim sepeda motor ke Bandung, saya resmi meninggalkan Tangerang. Setelah hampir lima tahun saya tinggal di sini, belajar banyak hal yang perlahan-lahan buka mata saya, nambah wawasan saya, dan merubah cara pandang juga berpikir saya.

Lima tahun, Tangerang jadi “arena bermain” saya, di mana ada memori yang terbungkus dalam ketawa sampai tenggorokan seret atau gigi kering, bahkan tangisan tanpa suara dalam doa yang saya panjatkan diam-diam.

Tangerang bukan sekedar tempat saya kuliah-lulus-bawa gelar sarjana. Di sana ada kenangan-kenangan manis yang tersimpan untuk saya ingat sama sahabat-sahabat saya, teman satu fakultas, teman satu perkuli proyekan saya.

Lima tahun lalu, ketika merasa terjebak di kota ini, di kepulangan saya kali ini ninggalin satu ruang di hati saya, tentang kota satelit pinggiran Jakarta yang diam-diam membentuk saya lebih kuat lagi dari sebelumnya.

Terima kasih Warung Mbok Cipto, Om Edy Warung Seafood Lusy, mall AEON, es krim IKEA, Soto Tangkar Mang Ebo, Soto Betawi H. Mamat, Nasi Ulam Mamah Ida, Warteg Jaya, juga lain-lain yang bikin uang saya habis dan perut saya makin buncit.

Saya undur diri,

Nisa.

23 tahun

Nggak, saya nggak lagi ulang tahun, udah lewat juga.

Setelah saya scroll instagram saya, ada teman-teman sepantar saya, lalu saya buka laman mereka, yang dulu berjuang sama-sama.

Ada yang masih berjuang merubah nilai D agar bisa lulus kuliah.

Ada yang lagi berjuang buat menyelesaikan skripsinya.

Ada yang sama-sama sedang menunggu wisuda.

Ada yang sedang melamar kerja dengan menyebar lamaran ke berbagai perusahaan.

Ada yang baru dapat kerja.

Ada yang baru resign.

Ada yang sudah pindah kantor.

Ada yang sedang menikmati kehidupan baru dengan pasangan halalnya.

Ada yang sedang menikmati masa kehamilannya.

Ada yang sudah sukses dengan bisnisnya.

Ada yang lagi ngerepost quote dari akun @nkcthi, sambil nungguin jodoh.

Ada yang lagi di menikmati masa penganggurannya.

Ada yang lagi mulai lanjut S2 di luar negeri.

Ada yang mulai putus asa sambil dengerin lagu Pilu Membiru-nya Kunto Aji #itugue wk.

Mereka dengan pace dan ceritanya masing-masing.

Fragmen kehidupan, gitu lah. Beragam. Saya juga sempat down karena lulus telat, nilai pas pula, sempat dapat kerjaan tapi ternyata batal karena satu dan lain hal, kelamaan nganggur.

Emang sih, usia ini kritis banget menurut saya, nyerempet quarter life crisis gitu loh kalau kata netizen. #halah

Tapi saya yakin, kita punya masanya masing-masing, diberi rahmat dengan jenis yang berbeda-beda, dikaruniai nikmat dengan cara yang tidak selalu sama.

Semangat!

Sebenernya ini efek ngopi semalam, jadi ngga bisa tidur, jadi mikir kemana-mana, tapi baguslah, udah lama nggak nulis random thoughts gini.

Tabik,

Vannisa Rindita

Bandung, 5.00 am.

Reaching My Version of Paradise (Part 1)

Februari 2018.

Notifikasi LINE di ponsel gue berbunyi. Datangnya dari Teh Yoan, salah satu teman facebook gue sejak 7 tahun lalu. Dia menginfokan tentang adanya promo AirAsia, pulang-pergi, ke India, 1.2 juta rupiah.

Otomatis gue panik, cek buku tabungan, dan berpikir lagi untuk membelinya, atau tidak.

Selang beberapa minggu, ternyata promonya masih ada, “bener-bener rezeki gue nih” soalnya biasanya gak lama-lama amat kan kalau tiket promo, setelah diskusi sama Mama, akhirnya, oke, beli! I’m going to India, yass.

Bayangan soal tempat yang menjadi bucketlist paling atas, langsung tergambar. Hati ikut campur aduk, panik lagi. Tak lama, gue sibuk urus paspor sana-sini hingga ke Serang, karena kuota di kantor imigrasi tak kunjung memadai untuk di wilayah Bandung maupun Tangerang.

Setelah itu, perencanaan perjalanan dimulai begitu alot. Kami akan menghabiskan tiga minggu, di India.

26 April 2018.

Di langit antara New Delhi dan Ladakh, gue berkali-kali menyebut kalimat hamdallah. Ada perasaan haru yang tak terbendung, masyaa Allah.

Setelah itu kami mendarat di Kushok Bakula Rimpochee Airport, bandara yang sebelumnya hanya bisa jadi bunga tidur di malam gue. Terwujud juga. Disambut dengan pegunungan himalaya, yang super-nggak-ngerti cuy kok terwujud juga ya. Heran.

Rasanya pingin sujud syukur pas baru mendarat, tapi karena area militer, di mana banyak tentara megangin bedil, maka gue urungkan.

Oke.

Dari dulu banget, ya ga lama-lama amat sih, mungkin 2-3 tahunan, gue pernah nonton filmnya Ron Fricke, antara Baraka atau Samsara, pokoknya di sana ada adegan para biksu tibetan buddhist bikin sand mandala, di sebuah monastery (atau gompa dalam bahasa lokal) yang dikelilingi hamparan pegunungan himalaya. Iya, gue langsung terobsesi sama dua hal itu; tibetan gompa dan pegunungan himalaya!

Hari pertama, kami dijemput oleh taxi driver, dan mata gue berbinar-binar begitu keluar dari airport. Karena pemandangan sekitar yang keren banget cuy Masyaa Allaah. Kangen kan jadinya guaaa. Wkwkwk.

Hari pertama yang gue lakukan adalah…aklimatisasi! Karena katanya rawan kena accute mountain sickness atau AMS, btw Kota Leh ini tingginya sekitar 3500 mdpl, nah loh hampir setinggi puncak gunung semeru. Jadi kita harus membiasakan diri sama oksigen yang tipis. Selain aklimatisasi, gue juga muter-muter cari ATM, karena gak bisa ambil ruppee, ternyata gue aja yang bahlul karena kalau di India, cara pakai ATM nya adalah masukin kartu sebentar, terus langsung dicabut lagi, baru masukin pin dan tulis berapa nominal uang yang mau kita ambil HAHAHAHA. Gegara ga tau itu gue muterin beberapa bank di Leh Market, dan gagal. Setelah gue ke salah satu bank yang beroprasi, baru deh tau.

Oh iya, Leh Market itu ternyata seasik itu, ada grocery store super murah mursidahun, penjual kain-kainan lokal, dan yang paling penting ada satu drugstore isinya merk Himalaya semua, dari facial wash, teh pelangsing ayurvredic, sampai balsam! Itu loh yang masker neem nya ngehits banget! Oh iya, kalau Ladakh itu nggak berasa lagi di India karena mayoritas rupa mukanya juga beda dibanding orang India pada umumnya, di sana mayoritas orang kashmiri dan tibetan, yang mirip Zayn Malik gitu banyak lah cuma ganjen-ganjen jadi gue mager wqwqwq. Ada beberapa yang mirip orang russia juga, baik. Terus banyak yang ngira kalo gue dan Teh Yoan itu orang Thailand, jadi sering di “sawasdee khap” in sama orang-orang wkkkkk. Di sini jauh lebih bersih dan teratur lah intinya…dan paling penting, jauh lebih bersih walaupun tetep ada beberapa pengemis yang annoying.

Kurang lebih kayak gini rupanya (( temen-temen gue )) orang kashmiri itu. Lewat lo semua. Lewat.

Leh Market.

Duh kangen aq tuuu.

Hari-hari selanjutnya (sumpah gue lupa bhakkk), akhirnya kami ikut tur. Oke intermejooo, jadi enaknya daerah Ladakh itu, semua harga apapun diatur pemerintah, termasuk tur sampai harga sebutir telur pun diatur pemerintah, sama semua! Kecuali harga souvenir kayaknya, dan mereka bener-bener sadar banget sama bahaya plastik. Jadi kita belanja nggak pernah dikasih plastik, biasanya dikasih kertas atau tas kain gitu. Oke

Hari selanjutnya kami tur gitu ke Likir Gompa. Sepanjang jalanan mulus berasa di Lombok #menurutluu dengan driver bernama Ali yang katanya seneng banget ketemu fellow muslim sisters seperti gue dan Teh Yoan.

#yhaaaaa gue mejeng mulu ngalangin pemandangan 🤣

Selanjutnya kerjaan gue selama di Leh adalah bangun tidur-masak di common kitchen-makan-chill ngeliatin gunung salju dari teras hostel-nyari wifi-ke Leh Market-repeat gitu aja terus selama 3 harian 😂 ntap juragan. Berasa horangkayah padahal mah sobatkyzmyn ya sama aja.. karena pemandangan di sekitar hotelnya kayak giniiii maliiiih…

Bonus si nyai yang lagi meringkuk kedinginan..

Karena tidak ada yang lebih nyqmad dibanding makan indomi dengan bekgron pegunungan himalayaaa ~

ASLINA LUR!

Berniat untung living like a locals seperti jargon para traveler maka di sana pun gue mencoba makanan khas india bernama Pani Puri ~~~~

Pani berarti kentang dan puri berarti air dalam bahasa hindi. Berarti artinya kentang dikasih aer. #bhaiq. Rasanya gimana? Kayak makan gorengan dalemnya kentang dingin terus dianuin bumbu rujak…asem asem pedes asin rame rasanya 😂. Berasa nona nona ye.

Okeee kemudian hari ke tiga gitu gue lupa kita ke Leh Palace dooong, tapi karena kami sobat qysmynd lagi lagi ya masuknya 200 rupee atau 40-50 ribu rupiahan gitu mending dipake buat makan kaan jadi kita foto-foto aja di luarannya dan ngedaki ke Namgyal Tsemo Monastery di atasnya yang gratisan. Okeh dua itu adalah tourist attraction terdekat dari pusat kota Leh selain Shanti Stupa.

Gue cosplay jadi kangkung karena berjalan melenggang…ngarti ga lu? HAHAHAHAA. Vibenya ala-ala tembok tiongkok karena ga boleh nyebut tembok cina ~

Nah ini Leh Palace, cuma bisa foto di depannya aja karena cuma mampu sampe situ doang shay ~

Segini dulu ya, nanti lanjut ke part 2.

Gitu aja,

Vannisa R.

Lombok for The Dummies

Oke karena demand meningkat minta gua pindain tulisan guidance ke Lombok buat first timer karena tumblr diblokir yauda gua taro sini aja oke.

Copas sih.

Mari…..

Oke karena literally BANYAK BANGET yang nanyain soal, “nis kalau mau ke Lombok seminggu ke mana aja?“. “Nis budget ke Lombok kira-kira berapa kalau termasuk tiket pesawat?“. Oke karena biasanya gue jawab panjang lebar satu-satu, gue tulis aja di sini semuanya tetek bengek, tempat tinggal, budget, sama itinerary dan perkiraan biaya hidup kalau ada yang pengen jalan-jalan lucu ke Lombok.

Sebagai patokan, gue tulis semuanya akses dari Jakarta, mungkin bisa disesuaikan juga kalau dari daerah lain..

Oke pertama transportasi menuju Lombok.

1. Pesawat CGK – LOP.

Pesawat dari Bandara Soekarno Hatta ke Bandara Internasional Lombok itu harganya sekitar 1 juta rupiah pp kalau lagi low season pake maskapai low cost. Jujur, gue selalu naik pesawat kalau ke Lombok karena gak mau pusing lama di jalan. Waktu terbang sekitar 1 jam 50 menit. Praktis banget kan. Kalau high season gue jujur gak pernah sih cuma mungkin bisa sampai 2 jutaan pulang-pergi. Pinter-pinter pilih waktunya aja ok.

2. Jalur Darat-Laut via Bali.

Kalau ini opsi biasanya yang pengen jalan-jalan mapay bahasa sundanya atau nyusurin semua daerah, mungkin gak mau rugi atau emang lagi selo aja. Kurang lebih sih naik kereta ekonomi, oke gue coba perkiraan pake kereta yang paling murah, sisanya disesuaikan kayak gini rutenya:

  • Pasar Senen – Lempuyangan (KA Progo) Rp 74000.
  • Lempuyangan – Banyuwangi (KA Sri Tanjung) Rp 94000.
  • Banyuwangi-Gilimanuk (Ferry Dewasa) Rp 7500.
  • Gilimanuk-Padang Bai (Bus) Rp. 60000.
  • Padang Bai – Lembar (Ferry) Rp 43000.
  • Lembar – Mataram (Mobil) Rp. 50000

Total : Rp. 318500

3. Jalur Darat-Laut via Surabaya.

Opsi ketiga hadir kalau kalian pengen masih ngerasain bekpeker-bekpekeran tapi gak mau terlalu ribet. Di akhir tahun 2016, ada kapal dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya langsung menuju Pelabuhan Lembar Lombok. Menurut gue lumayan motong tenaga sih ya. Oke kurang lebih gini…

Pasar Senen – Gubeng (KA Gaya Baru Malam) Rp. 115000

Tanjung Perak – Lembar Rp. 83000

Lembar – Mataram Rp. 50000

Total : Rp. 238000

Menurut gue opsi terakhir ini emang opsi termurah sih ya, tapi cek jadwal KM Legundi nya dulu karena kalau gak salah gak ada tiap hari dan jadwalnya sering berubah untuk memastikan waktu keberangkatan kalian.

Oh iya, akses dari Bandara Lombok ke Mataram, tersedia bus damri yang tarifnya sekitar 25 ribu, ada juga bus yang ke/dari Senggigi, bisa dipilih sesuai kebutuhan. Untuk pp Lembar-Mataram, bisa menghubungi Pak Samsul : 081917273321, tapi harus bicarakan jauh hari ya.

Kedua, tempat tinggal. Karena setiap gue ke Lombok itu hitungannya tinggal lumayan lama, berbulan-bulan maka biasanya sih gue nyari kosan. Tapi untuk yang pengen sebentar aja di Lombok, bisa banget cek instagramnya Rumah Singgah Lombok. Dan bisa tinggal gratis tanpa dipungut biaya sepeserpun. Untuk registrasinya bisa direct message aja ke sana ya, biar dihubungkan sama hostnya. Kalau pengen opsi lain, banyak hotel di daerah Kota Mataram atau Senggigi, tapi gue sih lebih menyarankan tinggal di daerah Cakranegara, Mataram. Soalnya di sana gak susah buat cari makan atau kebutuhan sehari-hari, di tengah kota, dan akses ke mana-mana pun cenderung enak. Untuk penginapan di Gili Trawangan pun harganya dimulai dari 100 ribuan per malamnya.

Ketiga, transportasi di Lombok. Oke banyak yang suka nanya, “nis, kalau di Lombok ada angkot gak?“. “Nis kalau di Lombok ada transport umum gak?“. Oke, di Lombok tuh gak ada angkot, transportasi umum pun setau gue terbatas banget. Paling cuma ada taksi, atau baru-baru ini kabarnya ada ojek online yang karya anak bangsa itu loh wkwkwkwk. Jadi gue sarankan nyewa motor aja biar fleksibel ke mana-mana. Tarif sewa motor itu sekitar 70-80 ribu sehari. Kalau dibagi dua bisa lumayan banget kan?

Saran gue, kalau mau ke Lombok itu satu hari fokusin ke setiap titik. Jadi dibagi setiap daerah itu satu hari contohnya, biar waktunya digunakan secara optimal, jadi sehari cukup konsentrasi ke satu daerah dan sekaligus bisa dapat banyak spot (beserta waktu tempuh dari Kota Mataram) :

Arah Pantai Selatan Lombok (-/+ 1,5 jam) :

  • Desa Sade
  • Batu Payung
  • Tanjung Aan
  • Bukit Merese
  • Pantai Semeti
  • Pantai Mawi
  • Pantai Mawun
  • Pantai Selong Belanak

Arah Pantai Utara-Barat-Senggigi (45 menit):

  • Gili Trawangan (idealnya nginep semalam)
  • Gili Air
  • Gili Meno
  • Pantai Klui
  • Pantai Kerandangan
  • Melaka (Bukit Malimbu)
  • Pantai Senggigi
  • Pantai Pandanan

Arah Pantai Pink (3,5 jam) :

  • Pantai Tangsi
  • Tanjung Ringgit
  • Pantai Segui

Arah Lombok Barat (1,5 jam) :

  • Gili Nanggu
  • Gili Kedis
  • Pantai Elak-Elak
  • Sekotong

Arah Lombok Timur (3 jam) :

  • Gili Kondo

Arah Sembalun-Lombok Timur (3,5-4,5 jam):

  • Gunung Rinjani
  • Bukit Pergasingan
  • Bukit Dua Dara
  • Air Terjun Mangku Sakti
  • Air Terjun Mangku Kodeq
  • Bukit Selong
  • Masjid Kuno Bayan Beleq
  • View Point Pusuk Sembalun

Oke mungkin bisa disesuaikan masing-masing ya mau dikunjungi hari keberapa.

Nah selanjutnya yang paling penting itu budget. Kadang suka ada yang nanya, “nis gue punya 2 juta bisa ke Lombok gak?“. BISA BANGET. Seminggu malah. Intinya budget itu tergantung masing-masing, kalau nginepnya di hotel bintang 5 ya gak cukup lah, tapi kalau sederhana, 2 juta menurut gue cukup banget, sih. Udah termasuk tiket pesawat pulak. Sip kan yak.

Biasanya gue kasih budget sehari itu 150000 yang meliputi :

  • Makan 3x : Rp 30000
  • Sewa Motor (share cost) : Rp 40000
  • Bensin : Rp. 15000
  • Jajan/Parkir : Rp. 15000
  • Penginapan : Rp. 0
  • Kebutuhan lain/tiket masuk wisata : Rp. 50000

Oke intinya biasanya sih gue segitu cukup ya~ kembali lagi pada jiwa hedonisme masing-masing wkwk.

Selain itu, gue juga suka dapet pertanyaan, “nis kalau cari makanan halal di Lombok susah gak?“. Nih ya gue kasih tau, mayoritas warga Nusa Tenggara Barat itu muslim. Jadi gak susah buat cari makan halal, tapi kalau mau yang haram juga ada sih soalnya masih banyak warga Hindu-Bali di Lombok, biasanya warung bali setau gue jualan babi guling jadi don’t worry guys wkwk. Jangan takut juga karena mostly makanan di Lombok itu halal. Nah harga makanan di Lombok itu beragam ya, dari model nasi bungkus campur yang dijual dipinggir jalan berbentuk kerucut illuminati itu harganya Rp. 5000 sebungkus udah kenyang banget, isinya dari sayur ikan ayam campur semua. Nah kalau mau rekomendasi gue soal makanan apa yang wajib coba kalau mumpung di Lombok, boleh deh gue kasih rekomendasinya beserta perkiraan biaya makan/orang:

  • Ayam Taliwang sekitaran Cakranegara : Rp 60000
  • Nasi Sekarbela : Rp. 10000
  • Sate Rembiga : Rp 40000
  • Ikan Bakar Pantai Pandanan : Rp 50000
  • Nasi Aheq Ampenan : Rp 10000
  • Nasi Kikil Masbagik : Rp 20000
  • Nasi Ayam Rarang : Rp. 35000
  • Sate Ikan Mirasa Cakranegara : Rp. 15000

Oke masih terjangkau kan ya, gambar gak gue tampilkan karena bulan puasa. Sip.

Oh iya, untuk akses ke Gili gimana?

Untuk Gili Trawangan terdapat kapal umum biasa tarifnya sekitar Rp. 17000/orang/sekali jalan dari Pelabuhan Bangsal. Kalau Gili Kondo/Gili Nanggu biasanya sistem charter, mungkin sekitar Rp 300000-500000/rombongan maksimal 8 orang.

Insya Allah cukup jelas dan bisa membantu perpiknikannya ya guys. Kalau ada yang kurang jelas bisa message gue secara personal. Oke oke oke.

Lain kali kalau gak mager semoga bisa nulis panduan sotoy versi sumatra-sabang sama labuan bajo yaaaa.

Semoga gak kentang, salam piknik!

Vannisa Rindita